GASINGNEWS.COM, TORAJA UTARA – Viral unggahan seorang ibu rumah tangga di Rantepao, Sarati Pasalli Pasalli (45), mendadak mengundang perhatian warganet setelah ia menuliskan keluhannya mengenai kondisi keluarganya yang porak-poranda akibat perjudian sabung ayam.
Komentar curhatannya di salah satu unggahan Facebook lokal viral sejak dua hari terakhir dan memicu kembali perdebatan soal maraknya praktik perjudian sabung ayam di Toraja Utara.
Dalam komentarnya, Sarati mengungkapkan bagaimana pendapatan dan tabungan keluarga, termasuk dana pinjaman untuk usaha kios dan pembangunan rumah, habis digunakan suaminya untuk berjudi sabung ayam di Toraja Utara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menulis bahwa selama satu bulan terakhir hidupnya dipenuhi tekanan dan kebingungan karena beban utang semakin besar, sementara suaminya tidak kunjung berhenti dari kebiasaan berjudi sabung ayam.
Saat dikonfirmasi melalui pesan Messenger, Sarati membenarkan bahwa komentar itu ditulis berdasarkan pengalaman pribadi yang sudah lama ia pendam.
Ia mengaku awalnya tidak berniat untuk membuat keluhannya viral, namun kondisi ekonomi yang semakin terjepit membuatnya terpaksa bersuara secara terbuka.
Ia menjelaskan bahwa suaminya pernah beberapa kali berjanji berhenti, tetapi kembali terlibat dalam aktivitas sabung ayam karena ajakan teman dan lingkungan sekitarnya.
Kondisi itu membuat keluarga terjebak dalam lingkaran utang dan tekanan psikologis. Sarati juga menyampaikan harapannya agar pemerintah dan aparat penegak hukum melakukan tindakan lebih tegas terhadap praktik perjudian yang dinilainya sudah merusak banyak rumah tangga.
“Yang saya inginkan hanya ketegasan. Jangan tunggu dulu kasus viral baru bergerak. Banyak keluarga yang mungkin lebih parah dari saya, tapi mereka diam karena takut malu,” ujar Sarati dalam pesan singkat.
Unggahan Sarati kemudian tersebar luas di berbagai grup Facebook Toraja Utara. Warganet memberikan ragam komentar, sebagian besar berupa dukungan moral, empati, dan seruan agar aparat segera melakukan operasi penertiban.
Beberapa pengguna juga mengungkapkan bahwa mereka memiliki pengalaman serupa, menandakan bahwa persoalan judi sabung ayam bukan masalah individual, melainkan persoalan sosial yang meluas.
Di sisi lain, masyarakat Toraja sebenarnya mengetahui bahwa aparat dan pemerintah daerah telah beberapa kali melakukan sosialisasi dan razia terhadap praktik perjudian.
Namun, banyak pihak menilai bahwa penindakan tersebut belum konsisten dan cenderung mereda ketika perhatian publik mulai beralih.
Kasus yang dialami Sarati kini menjadi sorotan baru bagi warga dan pemerhati sosial di Toraja Utara.
Curhatannya dianggap mewakili suara banyak perempuan dan keluarga yang menjadi korban dari praktik perjudian yang berlangsung secara sembunyi-sembunyi namun tetap terorganisir.
Bagi Sarati, keberaniannya berbicara di media sosial bukan untuk mempermalukan suaminya, melainkan sebagai bentuk keputusasaan dan harapan terakhir agar ada tindakan nyata dari pihak berwenang.
Ia berharap tidak ada lagi keluarga yang mengalami situasi seperti dirinya, terjebak dalam kerugian finansial dan konflik rumah tangga akibat perjudian yang tidak terkendali.
Curahan hatinya kini menjadi pengingat bahwa isu perjudian masih menjadi ancaman serius bagi kestabilan keluarga dan masyarakat di Toraja Utara. Sebuah sinyal bahwa penanganan tegas dan berkelanjutan perlu dilakukan agar kasus serupa tidak terus terulang. (*)
Pewarta: Arya Rahman




























