TORAJA UTARA – Praktik judi sabung ayam di Toraja Utara kembali menjadi perhatian luas setelah aktivitas tersebut disebut makin mudah dijumpai di sejumlah wilayah.
Meski aparat penegak hukum beberapa kali melakukan operasi, kegiatan yang termasuk penyakit sosial ini dinilai semakin berani dan dilakukan baik secara tertutup maupun terbuka.
Informasi yang diterima dari warga menunjukkan bahwa beberapa lokasi kerap dijadikan arena sabung ayam dengan pola yang berpindah-pindah. Pola ini membuat penindakan di lapangan tidak selalu efektif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para pelaku disebut telah memahami pola operasi aparat sehingga dapat mengelabui pengawasan. Kondisi tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa praktik judi ini telah membentuk jaringan solid yang sulit diputus tanpa kolaborasi serius.
Sorotan keras terhadap fenomena ini datang dari Gereja Toraja. Melalui pernyataan resmi di kanal YouTube @gerejatorajajemaatbetlehem6838, Ketua Umum Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, Pendeta Alfred Anggui, menyampaikan keprihatinan mendalam.
Ia menegaskan bahwa Toraja tidak memiliki sumber daya alam unggulan seperti banyak daerah lain di Indonesia, sehingga kekuatan terbesar daerah ini terletak pada kualitas manusianya.
Dalam pesannya, ia mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan karakter orang Toraja dirusak oleh praktik negatif seperti judi.
Menurutnya, jika generasi muda terbiasa melihat sabung ayam sebagai hal yang lumrah, maka masa depan daerah akan menghadapi ancaman serius.
“Toraja tidak punya sumber daya alam yang dapat diunggulkan. Toraja hanya punya orang Toraja. Jadi tolong jangan biarkan orang Toraja itu dirusak dengan hal-hal negatif yang dapat merusak masa depan masyarakat, termasuk judi,” ujarnya dikutip dalam keterangannya, beberapa waktu lalu.
Pernyataan tegas itu sekaligus menjadi sinyal bahwa lembaga keagamaan tidak tinggal diam ketika nilai-nilai sosial dan moral masyarakat mulai tergerus.
Gereja Toraja juga menegaskan komitmennya sebagai lembaga moral yang harus menyampaikan suara peringatan ketika praktik merusak mulai menguat di tengah masyarakat.
Alfred Anggui menyebut bahwa kepedulian gereja terhadap maraknya penyakit sosial bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan bahwa Toraja memiliki tanggung jawab bersama menjaga masa depannya.
“Gereja Toraja tegas menyoroti beragam penyakit sosial, terutama judi. Itu karena Gereja Toraja mencintai Toraja,” lanjutnya.
Di sisi lain, masyarakat menilai upaya penindakan aparat sudah berlangsung, namun belum optimal. Tantangan terbesar bukan hanya lokasi adu ayam yang berpindah, tetapi juga adanya oknum yang diduga melindungi praktik tersebut.
Sejumlah warga berharap pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, dan aparat keamanan dapat bersinergi lebih kuat untuk menghapuskan sabung ayam yang telah lama dianggap merugikan.
Seruan Gereja Toraja kali ini menjadi momentum penting. Di tengah kekhawatiran meningkatnya toleransi terhadap judi, suara tegas lembaga gereja dianggap mampu menggugah kesadaran kolektif.
Masyarakat Toraja diingatkan bahwa menjaga generasi muda dari kegiatan destruktif adalah investasi sosial terbesar bagi keberlanjutan daerah. (*)
Pewarta: Arya Rahman

















